Teman-teman saya sering heran, bagaimana bisa murid yang serba ‘malas’ dan kerap tidur di dalam kelas seperti saya bisa terus-terusan menjadi juara umum tiap semesternya? Saya tertawa saja, lagipula siapa yang ‘malas’ dan ‘kerap tidur di dalam kelas’? Beberapa kawan yang sangat dekat dengan saya mestinya tahu bahwa ya, saya memang menunduk dan terpekur, tapi bukan dalam tidur melainkan dalam dzikir yang menenangkan.

Bukannya saya kurang ajar dan tidak hormat pada guru yang mengajar, bukan juga saja tidak peduli pada apa yang diajarkan. Tapi semata-mata karena apa yang dijelaskan di depan kelas sepenuhnya telah saya mengerti. Maka tidakkah lebih baik jika saya mengisi waktu dalam diam daripada mengobrol di tengah pelajaran?

Apakah dari dulu saya sudah seperti ini?

Tidak juga. Justru sebaliknya, dulu saya dikenal sebagai murid bandel nan bebal yang susah sekali diajar. Saking bebalnya, oleh paman saya yang setengah putus asa saya dikenalkan pada Ilmu Laduni lewat situs www.ilmuladuni.com. Awalnya saya ragu, apa benar amalan yang demikian sederhana bisa membuat saya cerdas seketika? Jawabannya tentu saja tidak. Seseorang tidak akan lantas menjadi pandai tanpa usaha. Karena itu saya baru mulai mengamalkan Ilmu Laduni setelah menata hati dan pikiran bahwa Ilmu Laduni bukanlah semata-mata angin segar bagi mereka yang malas belajar. Ilmu Laduni justru adalah cambuk bagi kita untuk terus menambah pengetahuan yang kita miliki.

Hasilnya persis seperti yang saya sebutkan di atas. Duduk diam di dalam kelas, berdzikir sambil setengah tidur tapi bisa terus menerus menjadi juara umum. Saya yakin generasi muda jaman sekarang harusnya lebih termotivasi untuk mengamalkan Ilmu Laduni sebagai jalan keluar persoalan dan sarana memperluas wawasan mereka.

Dwi R. – Bojonegoro

*Disclaimer : Kisah Testimonial Diatas ini hanya sebagai referensi dan hasil yang diperoleh setiap orang bisa berbeda

<<- Kembali