Saya tidak keberatan dibilang rakus dalam hal pendidikan, sebab mungkin itulah istilah yang paling banyak dipakai orang. Rakus, ambisius. Setelah sempat loncat kelas hingga berkali-kali sepanjang riwayat pendidikan menengah, saya dinyatakan lulus dari fakultas kedokteran salah satu universitas negeri di Yogyakarta sebelum usia saya genap 18 tahun. Banggakah saya? Tentu. Banggakah orang tua saya? Sudah pasti. Lantas apa rahasianya? Ilmu Laduni, tentu saja. Memangnya apa lagi?

Jauh dari yang dibayangkan kebanyakan orang, amalan Ilmu Laduni tidaklah rumit. Hanya butuh ketekunan dalam mengamalkannya saja. Atau menurut pengalaman saya, faktor guru-lah yang sangat mempengaruhi berhasil tidaknya riyadhah seseorang untuk mendapatkan Ilmu Laduni.

Guru Ilmu Laduni saya adalah Ustadz Masrukhan, konsultan spiritual yang mendirikan Asosiasi Parapsikologi Nusantara. Saya sudah berguru pada beliau sejak sebelum APN didirikan, maka tak heran jika hasil yang saya capai pun sudah terlihat sedemikian bagusnya. Ustadz Masrukhan jugalah saksi yang bisa menceritakan betapa dulu saya bukan termasuk anak pintar, bukan termasuk anak yang pandai memahami sesuatu. Namun beliau terus menekankan bahwa pada dasarnya semua manusia terlahir seperti selembar kertas putih yang bersih tanpa tulisan maupun dosa. Apa yang ingin kita torehkan di atas lembaran kertas tersebut kita sendirilah yang menentukan.

Di bawah bimbingan Ustadz Masrukhan saya mengamalkan Ilmu Laduni hingga sekarang. Hasilnya? Sudah Anda baca sendiri di atas, bukan? Akan sangat aneh jika masih saja ada orang yang tidak percaya pada keberadaan Ilmu Laduni setelah membaca pengalaman pribadi saya ini. Cobalah, amalkan dan rasakan keberkahannya.

Rianna T. – Sidoarjo

*Disclaimer : Kisah Testimonial Diatas ini hanya sebagai referensi dan hasil yang diperoleh setiap orang bisa berbeda

<<- Kembali